WhatsApp-Image-2026-07-19-at-11.45.59-2
TOKOH INSPIRASI Menjaga Cahaya Literasi di Tengah Amanah, Kisah Inspirasi dari Ustadzah Nurul Faizah, S.Pd.I., Gr

Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai guru, kepala sekolah, sekaligus penanggung jawab tim literasi, Ustadzah Nurul Faizah, S.Pd.I., Gr. membuktikan bahwa kesibukan bukanlah alasan untuk berhenti belajar, membaca, dan berkarya. Justru di balik berbagai amanah yang beliau emban, semangat literasi tumbuh dan terpelihara dengan begitu luar biasa.

Banyak orang menganggap bahwa jabatan dan pekerjaan yang menumpuk akan menyita seluruh waktu dan energi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Beliau. Di sela kesibukan mengelola sekolah, mendampingi guru, melayani peserta didik, serta mengembangkan berbagai program pendidikan, beliau tetap menyediakan ruang khusus untuk membaca, menulis, dan menebarkan semangat literasi kepada orang lain.

Kecintaannya terhadap literasi bukan sekadar hobi, melainkan telah menjadi bagian dari hidupnya. Buku menjadi sahabat yang selalu menemani perjalanan berpikirnya. Dari kebiasaan membaca itulah lahir wawasan yang luas, cara pandang yang bijaksana, serta kemampuan untuk melihat berbagai persoalan dari sudut yang lebih mendalam. Tak heran jika banyak orang merasa kagum ketika berdiskusi dengannya. Setiap gagasan yang disampaikan selalu sarat makna dan mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Semangat literasi yang beliau miliki juga tercermin melalui karya-karya tulis yang berhasil diterbitkan. Salah satu buku yang banyak menyentuh hati pembaca adalah Titik Terendah. Buku tersebut bukan hanya rangkaian kata-kata, tetapi juga potret ketegaran, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Melalui buku itu,Ustadzah Nurul Faizah mengajak pembaca memahami bahwa setiap manusia pernah berada pada titik terendah dalam hidupnya. Namun, keterpurukan bukanlah akhir dari perjalanan. Di balik setiap kesulitan, selalu ada pelajaran yang membentuk kekuatan dan kedewasaan. Pesan-pesan yang disampaikan terasa begitu dekat karena lahir dari hati yang tulus dan pengalaman yang penuh makna.

Yang membuat beliau istimewa bukan hanya kemampuannya menulis, melainkan cara beliau memandang makna sebuah tulisan. Bagi beliau, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide ke dalam kertas. Menulis adalah proses menyembuhkan, menguatkan, dan menghidupkan harapan. Menulis menjadi ruang untuk berdialog dengan diri sendiri sekaligus sarana untuk mengajak orang lain menemukan cahaya di tengah gelapnya kehidupan.

Beliau percaya bahwa tidak semua orang dapat dipaksa untuk menulis. Namun, sebuah tulisan yang lahir dari ketulusan mampu mengetuk hati pembaca tanpa paksaan. Kata-kata yang baik akan menemukan jalannya sendiri untuk menyentuh jiwa, menggerakkan pikiran, dan menghadirkan perubahan positif.

Sosoknya mengajarkan bahwa literasi tidak tumbuh karena banyaknya waktu luang, melainkan karena adanya cinta yang tulus terhadap ilmu dan pembelajaran. Di tengah kesibukan yang padat, beliau tetap menjaga api literasi agar terus menyala. Bahkan, api itu tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi cahaya bagi banyak orang.

Keteladanan beliau menjadi pengingat bagi kita bahwa membaca dan menulis bukanlah kegiatan yang menunggu waktu senggang. Literasi adalah pilihan hidup. Dan melalui dedikasi yang ditunjukkan Ustadzah Nurul Faizah, S.Pd.I., Gr, kita belajar bahwa seseorang yang mencintai literasi akan selalu menemukan cara untuk menjaga dan menumbuhkannya, seberapa pun besar kesibukan yang sedang dihadapi.

Karena pada akhirnya, perubahan besar sering kali lahir dari orang-orang yang setia merawat kebiasaan kecil, membaca satu halaman, menulis satu paragraf, lalu membagikan manfaatnya kepada dunia.

 

Pesan moral

Ketika kesibukan membuat banyak orang berhenti berkarya, jiwa-jiwa yang mencintai literasi justru semakin menemukan makna. Mereka menulis bukan untuk dikenal, tetapi untuk menguatkan. Mereka membaca bukan untuk dipuji, tetapi untuk memahami. Dan dari ketulusan itulah lahir warisan paling indah: ilmu yang hidup, manfaat yang terus mengalir, dan inspirasi yang tak pernah selesai diceritakan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait