WhatsApp-Image-2026-07-26-at-16.51.57
Slime dan Baju Baruku

Slime dan Baju Baruku

Oleh Raisha Rania Rachman

“Geaaaaaa…!” Nah, tuh, terdengar suara Mama yang berteriak dari ruang tamu.Gea terkikik dan tidak menyahut. Biar saja Mama marah-marah. Paling-paling Mama mengomel hal yang sama, pikir Gea.

“Gea jangan lupa belajar! Gea udah ngerjain PR belum? Gea jangan main game melulu! Gea mainanmu jangan lupa dirapikan ke tempatnya! Gea jangan ini…jangan itu…” Gea sibuk komat-kamit meniru omelan Mama.

Tiba-tiba, Mama sudah sampai di pintu kamarnya. Gea langsung menutup mulutnya.

“Geaaa… kan, Mama sudah bilang, jangan suka menaruh slime di sembarang tempat” kata Mama sambil menunjuk dan merapikan mainan yang berserakan.

Tuh kaaannn, jangan taruh slime sembarangan lagi. Omelan Mama begitu lagi, begitu lagi, gumam Gea dalam hati.

”Mainan dan slime belum sempat Gea rapikan waktu Aira memanggil ngajak main sepedaan. Jadi buru buru Gea keluar ambil sepeda Ma,” ujar Gea membela diri.

Mama mengernyitkan keningnya, “ini bukan pertama kalinya Gea tidak merapikan mainannya.” Tegas mama terhadap Gea.

Gea menunduk, “Tapi kan cuma slime, Ma.”

Mama menggeleng geleng. “Tapi kalau Gea tiduran dan slimenya terkena rambut atau baju susah ngebersihinnya.

Gea tertunduk diam,”Maaf, Ma” ucapnya pelan.

Namun esok harinya Gea Kembali mengabaikan nasihat Mama. Menurutnya itu cuma masalah sepele. Gea kembali tidak merapikan mainan slimenya.

Saat Gea selesai bermain sepedaan dengan Aira, Mama terlihat kurang sehat. Gea melihat mamanya duduk di sofa ruang Tengah sambil memijit-mijit dahinya. Begitu melihat Gea tiba di rumah, Mama terlihat lega dan memutuskan beristirahat di kamar .

Gea kasihan pada Mama, jadi dia merapikan mainannya sendiri. Ia lalu menuju meja makan tanpa berteriak cerewet tentang lauknya. Sepanjang siang hingga sore dan malam itu, Gea berusaha untuk tak membuat keributan. Tidur siang tanpa menunggu perintah, belajar, mandi sore dan menyelesaikan tugas sekolahnya tanpa menunggu teriakan Mama.

Gea teringat baju baru yang dibelikan Mama, tadi ditaruh di ruang tamu. Saat diangkat ternyata slime sudah menempel dibaju barunya.Baju baru itu rencananya akan dipakai besok pagi saat outing class ke kebun binatang, Bersama teman temanya.

“Mamaaa…teriak Gea dari ruang tamu,sambil menitihkan air mata.”

Mama pun datang menghampiri Gea, dengan nada lembut Mama pun membelai rambut Gea sambil berkata, “Gea sayang taukan kenapa Mama selalu menasehati Gea, untuk selalu merapikan mainnanya ditempatnya ulang”. Tegur Mama masih dengan nada lembutnya.  

“Iya ma”. jawab Gea sambil terisak pelan.

Karena slime susah dibersihkan Mama pun harus merendam pakain baru Gea. Keesokan paginya baju Gea masih basah, akhirnya saat outing class Gea tidak memakai baju baru.

Hari itu, Gea menyadari bahwa nasihat Mama bukanlah sekadar omelan, Semua itu karena rasa sayang Mama dan ingin mengajarkan Gea agar lebih bertanggung jawab. Gea berjanji akan selalu merapikan mainannya setelah bermain. Kini ia tahu, hal kecil yang disepelekan bisa menimbulkan penyesalan yang ‘besar’.

Pesan moral :

  1. Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui kisah sederhana tentang Gea, kita diajak memahami bahwa tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil, seperti merapikan mainan, menjaga barang milik sendiri, dan mendengarkan nasihat orang tua.

 

  1. Disiplin bukan tentang melakukan hal besar, tetapi tentang membiasakan diri melakukan hal kecil dengan penuh tanggung jawab. Saat kita menghargai nasihat orang tua dan bertanggung jawab atas perbuatan kita, kita sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Setiap anak memiliki cerita, imajinasi, dan pesan kebaikan yang layak untuk dibagikan. “Slime dan Baju Baruku” merupakan salah satu karya cerpen hasil kreativitas siswa kelas VI Al A’raf SD ITQ As Syafi’iyyah yang menggambarkan pentingnya disiplin, tanggung jawab, serta menghargai nasihat orang tua melalui kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan literasi ini, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga menuangkan nilai-nilai karakter dalam sebuah karya yang menginspirasi. Semoga cerpen ini menjadi motivasi bagi peserta didik untuk terus berkarya, mencintai dunia literasi, dan menebarkan pesan-pesan kebaikan melalui tulisan.

 

“Satu cerita yang ditulis hari ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak pembaca di kemudian hari.”

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait