Sekolah dari Masa Depan: Saat Kecanggihan Bertemu Keluhuran Budi
Magelang, 24 September 2026
Apa yang akan kita temui ketika membayangkan sekolah di masa depan? Mungkin ruang-ruang belajar yang semakin canggih, teknologi yang hadir dalam hampir setiap proses pembelajaran, kecerdasan buatan yang membantu anak menemukan pengetahuan, serta dunia digital yang membuat batas antara ruang kelas dan dunia luar semakin tipis. Anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang begitu akrab dengan teknologi, cepat menerima perubahan, dan memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, di tengah bayangan tentang sekolah yang serba digital dan canggih itu, ada satu hal yang justru semakin penting untuk kita jaga adalah adab. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan dalam pendidikan, pada akhirnya yang akan menjalani dan menggunakan semua itu adalah manusia. Teknologi dapat membantu seseorang menjadi lebih cepat belajar, lebih mudah menemukan informasi, dan lebih luas berkarya. Tetapi adablah yang mengajarkan bagaimana ilmu dan kecanggihan itu digunakan dengan bijaksana, bertanggung jawab, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Gagasan tentang masa depan pendidikan tersebut terasa begitu dekat dalam buku antologi puisi karya anak dan guru SD ITQ As Syafi’iyah tahun 2026, Sekolah dari Masa Depan. Buku ini bukan sekadar kumpulan kata yang dirangkai menjadi puisi, tetapi menjadi ruang tempat anak-anak menuangkan imajinasi, harapan, dan cara pandang mereka terhadap sekolah yang mereka impikan. Melalui bahasa yang sederhana dan jujur, mereka mencoba melihat masa depan dari sudut pandang mereka sendiri—sebuah masa depan yang mungkin penuh teknologi, tetapi tetap membutuhkan manusia yang memiliki hati dan budi pekerti.
Ada sesuatu yang menarik ketika anak-anak diberi kesempatan untuk membayangkan sekolah di masa depan. Mereka tidak hanya berbicara tentang perangkat digital, kelas modern, atau teknologi yang semakin maju. Di balik imajinasi itu, tersimpan harapan tentang sekolah yang nyaman, guru yang memahami, teman yang saling menghargai, serta lingkungan belajar yang membuat mereka merasa aman untuk tumbuh dan bermimpi. Dari sanalah kita dapat melihat bahwa bagi anak-anak, masa depan bukan hanya tentang apa yang semakin canggih, tetapi juga tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan dan bagaimana mereka ingin memperlakukan orang lain.
Puisi kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan imajinasi dengan kenyataan. Anak-anak yang mungkin belum mampu menjelaskan gagasannya dalam uraian panjang, dapat menyampaikannya melalui beberapa bait sederhana. Ada keberanian ketika seorang anak menuliskan pikirannya dan membiarkan orang lain membacanya. Ada pula proses belajar untuk mengenali perasaan, memilih kata, menyusun gagasan, dan memahami bahwa apa yang ada di dalam pikirannya memiliki arti. Dalam konteks inilah literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan menyampaikan sesuatu dengan bermakna.
Kehadiran karya para guru dalam antologi ini juga memberikan warna tersendiri. Anak-anak melihat masa depan dari ruang imajinasi mereka, sementara guru membawa pengalaman, pengamatan, dan harapan sebagai pendidik. Keduanya bertemu dalam satu buku yang sama, menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan perjalanan bersama. Guru mendampingi anak-anak untuk mengenal dunia, sementara anak-anak sering kali mengingatkan orang dewasa bahwa dunia juga dapat dilihat dengan cara yang lebih sederhana, jujur, dan penuh kemungkinan.
Di masa ketika komunikasi dapat berlangsung hanya dengan sentuhan layar, adab justru menjadi semakin penting. Anak-anak perlu belajar bahwa di balik setiap akun ada manusia, di balik setiap pesan ada perasaan, dan di balik setiap kebebasan berekspresi terdapat tanggung jawab. Mereka perlu tumbuh sebagai generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, tetapi juga mampu menjaga tutur kata, menghormati orang lain, menghargai perbedaan, dan memahami batas antara kebebasan dan tanggung jawab.
Karena itu, sekolah masa depan tidak cukup hanya menyiapkan anak agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Sekolah juga perlu menyiapkan mereka agar tidak kehilangan arah ketika zaman terus berubah. Kita ingin anak-anak yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak oleh teknologi; mampu berpikir kritis, tetapi tetap santun; mampu berprestasi, tetapi tetap rendah hati; serta mampu bersaing di dunia yang semakin luas tanpa kehilangan nilai-nilai kebaikan yang menjadi pijakan hidupnya.
Pada akhirnya, Sekolah dari Masa Depan bukan hanya berbicara tentang sekolah yang belum kita temui. Buku ini juga mengajak kita melihat kembali sekolah yang sedang kita bangun hari ini. Masa depan sesungguhnya sedang tumbuh dari ruang-ruang kelas, dari kebiasaan kecil, dari buku yang dibaca, dari kata-kata yang ditulis, dari sikap yang dicontohkan, dan dari nilai-nilai yang terus ditanamkan kepada anak-anak di SD ITQ As-Syafi’iyah.
Sebab boleh jadi, sekolah masa depan akan memiliki teknologi yang jauh lebih canggih daripada yang mampu kita bayangkan hari ini. Namun, kita berharap satu hal tetap tumbuh lebih kuat di dalamnya: keluhuran budi. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak-anak mampu menghadapi masa depan, tetapi juga tentang memastikan bahwa ketika mereka sampai di sana, mereka tetap menjadi manusia yang baik.
Saat kecanggihan bertemu keluhuran budi, di sanalah sekolah masa depan menemukan maknanya.