WhatsApp-Image-2026-08-02-at-20.17.34
SAAT LANGIT BELAJAR MENDENGAR

Selamat Hari Minggu, Sahabat Literasi! Hari ini adalah waktu yang tepat untuk sejenak beristirahat dari kesibukan dan menemani secangkir teh atau kopi dengan sebuah kisah yang hangat. Mari menyelami perjalanan Nayla, seorang gadis yang diam-diam menyimpan mimpi besar di balik lembar-lembar bukunya.  

Semoga setiap halaman yang Anda baca hari ini menghadirkan harapan, keberanian, dan alasan untuk terus percaya pada mimpi. Selamat membaca, dan selamat menikmati kisah bersambung kita.

 

SAAT LANGIT BELAJAR MENDENGAR

 

  1. Rasi Bintang Yang Terpejam

Hujan turun perlahan membasahi halaman sebuah rumah sederhana di ujung desa. Rintiknya mengetuk atap seng, mengalunkan irama yang hanya didengar oleh mereka yang sedang memendam banyak cerita.

Di balik jendela kamar yang mulai dipenuhi embun, seorang gadis duduk bersila di lantai. Sebuah lampu belajar kecil menerangi wajahnya yang teduh. Di hadapannya terbentang sebuah buku tulis bersampul hijau yang mulai usang. Hampir seluruh halamannya telah dipenuhi tulisan tangan yang rapi.

Namanya Nayla.

Usianya lima belas tahun. Siswi kelas sepuluh yang tidak terlalu dikenal di sekolah. Nilainya tidak selalu menjadi yang terbaik, suaranya tidak pernah paling lantang, dan wajahnya tidak pernah muncul di panggung-panggung perlombaan. Namun ada satu hal yang tak pernah diketahui banyak orang. Ia mencintai kata-kata.

Bagi Nayla, setiap huruf memiliki nyawa. Setiap kalimat adalah rumah yang mampu menampung perasaan yang tak sanggup ia ucapkan. Saat teman-temannya menghabiskan malam dengan menonton film atau bermain game, Nayla memilih menuliskan dunia yang hanya hidup di dalam kepalanya.

Ia menulis tentang hujan yang selalu pulang ke bumi.

Tentang pohon tua yang setia menunggu musim.

Tentang seorang anak yang kehilangan ibunya.

Tentang mimpi-mimpi yang tetap tumbuh meski berkali-kali diinjak kenyataan.

Malam itu jemarinya kembali menari di atas kertas. “Mungkin suatu hari nanti, akan ada seseorang yang membaca tulisanku dan merasa bahwa ia tidak sedang sendirian,” gumamnya lirih.

Nayla berhenti sejenak. Ia tersenyum kecil. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi membuat dadanya hangat. Bukan uang yang ia bayangkan. Bukan pula ketenaran. Ia hanya ingin tulisannya menjadi teman bagi orang lain.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. “Nayla… masih belum tidur?” sapa ibu dari Seberang pintu.

Seketika jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan terburu-buru ia menutup buku itu dan menyelipkannya ke bawah bantal.

“Iya, Bu… sebentar lagi,” jawabnya gugup.

Pintu kamar terbuka perlahan. Ibunya masuk sambil membawa pakaian yang sudah dilipat.

“Kamu belajar?” sapa ibu yang masih dengan membawa baju yang sudah dilipat.

Nayla mengangguk.

“Iya Bu,” jawabnya pendek sembari mennyembunyikan gugupnya.

Ibunya memandang meja belajar yang dipenuhi buku pelajaran. Tidak ada yang mencurigakan. “Jangan tidur terlalu malam, besok sekolah,” nasihat ibu sambil melangkah keluar dan menutup pintu.

Setelah pintu kembali tertutup, Nayla mengembuskan napas panjang. Ia mengambil lagi buku hijau itu. Buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan. Di sanalah seluruh mimpinya disimpan.

Keesokan paginya, sekolah mulai ramai. Koridor dipenuhi suara tawa siswa. Nayla berjalan pelan sambil membawa beberapa buku yang dipeluk di dadanya.

“Hei!” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Nayla langsung tersenyum. “Alya.” Seraya menatap wajah sahabatnya dengan senyum lekat.

“Gimana? Semalam nulis lagi?” sapa Alya untuk membuka percakapan pagi itu.

Nayla tertawa kecil.

“Kamu selalu tahu,” jawab Nayla lirih seraya menundukkan kepala.

“Soalnya kalau mata kamu agak merah, pasti habis begadang nulis,” ledek Alya yang paling mengerti sahabatnya itu.

Alya adalah sahabat satu-satunya yang mengetahui rahasia Nayla. Mereka berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar. Alya tahu bahwa Nayla tidak pernah pandai menceritakan isi hatinya kepada orang lain. Tetapi setiap kali membaca tulisan Nayla, ia merasa mengenal sahabatnya lebih dalam.

“Aku selesai satu cerita,” cerita Nayla dengan senyum tipisnya.

“Serius?” sahut Alya dengan mata membelalak kaget.

Nayla mengangguk pelan. Memberi isyarat bahwa ia benar benar memberi iizn pada sahabatnya.

“Nanti aku baca ya,” tawar Alya kepada Nayla.

“Jangan diketawain!” tegas Nayla

Alya pura-pura cemberut. “Aku pernah ketawa?”

Nayla hanya membalasnya dengan menggeleng sambil tersenyum.

Bel masuk berbunyi. Percakapan mereka terhenti. Namun jauh di lubuk hati Nayla, ada satu pertanyaan yang kembali muncul. ”Apakah tulisanku benar-benar layak dibaca orang lain?”

Pelajaran Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang paling ditunggu Nayla. Bukan karena ia selalu mendapat nilai sempurna. Melainkan karena setiap kali guru meminta siswa membuat cerita, Nayla merasa seperti menemukan rumah. Hari itu Bu guru meminta seluruh siswa menulis pengalaman yang paling berkesan. Sebagian besar siswa mengeluh.

“Bu… lima paragraf?” tanya salah satu siswa seakan menawar untuk di kurangi jumlah paragrafnya.

“Bu… boleh nyontek internet?” tanya salah satu siswi lagi seyara memegang kepalanya.

Namun Nayla justru tersenyum. Tangannya bergerak cepat. Tanpa berpikir lama, kata demi kata mengalir begitu saja.

Bu Ratih memperhatikan seluruh muridnya. Sesekali beliau berhenti di belakang Nayla.

Matanya sedikit membesar melihat halaman demi halaman yang telah terisi. Namun beliau tidak berkata apa pun. Beliau hanya tersenyum tipis sebelum kembali berjalan.

Nayla tidak menyadari tatapan itu. Ia terlalu tenggelam dalam tulisannya. Merangkai setiap huruf dengan indah menjadi kata dan kalimat yang mempesona.

Sore hari, Nayla membantu ibunya menyapu halaman rumah. Ayah baru saja pulang bekerja. Wajahnya tampak lelah.

“Nayla.” Sapa Ayah pada anak semata wayangnya itu.

“Iya, Yah.” Jawab Nayla sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan ayahnya yang baru pulang kerja.

“Nilai matematikamu berapa?” Spontan pertanyaan ayah meluncur tanpa melihat situasi dan kondisi.

“Delapan puluh enam,” jawab Nayla sambil menunduk tanpa mengurangi rasa hormat pada sosok yang telah membesarknnya itu.

Ayah hanya mengangguk singkat. “Harus lebih tinggi,” dengan nada penuh tekanan.

“baik Ayah,” sahut Nayla.

“Kalau ingin berhasil, belajar yang benar,” sambung ayah.

Tidak ada senyum. Tidak ada tepukan di bahu. Hanya kalimat-kalimat perintah yang terdengar seperti tugas yang harus diselesaikan.

Malam kembali datang. Setelah semua orang tertidur, Nayla kembali membuka buku hijau kesayangannya. Di halaman pertama ia menulis sebuah kalimat baru.

“Jika suatu hari nanti tidak ada seorang pun yang percaya padaku, semoga aku masih memiliki keberanian untuk percaya pada diriku sendiri.”

Ia memandang kalimat itu cukup lama. Tanpa sadar, air matanya jatuh. Bukan karena sedih. Melainkan karena ia takut. Takut kalau mimpinya memang terlalu tinggi. Takut kalau semua orang benar, Bahwa menulis hanyalah kegiatan yang sia-sia.

Hari-hari berlalu tulisan di buku hijau itu semakin banyak, satu cerita, dua cerita lima cerita, sepuluh cerita. Setiap halaman menjadi saksi bahwa Nayla tidak pernah berhenti bermimpi.

Suatu sore, ketika ia sedang membeli kebutuhan dapur atas permintaan ibunya, hujan turun begitu deras. Ia berlari pulang sambil melindungi tas sekolahnya. Sesampainya di rumah, ia buru-buru menuju kamar. Namun wajahnya langsung berubah pucat. Lemari yang biasa ia gunakan untuk menyimpan buku terbuka. Laci meja belajar juga tidak lagi rapi.

Nayla memandang sekeliling kamar. Matanya mencari ke mana-mana. Buku hijau itu, tidak ada. Dadanya mendadak sesak. Ia membongkar isi lemari, Mencari di bawah tempat tidur, di balik bantal, di rak buku. Tetap tidak ada.

Langkah kaki seseorang terdengar dari ruang tamu. Nayla keluar dengan napas memburu. Ia menatap di sudut ruangan, ayahnya sedang duduk di kursi kayu. Di tangannya tergenggam sebuah buku bersampul hijau yang sangat dikenalnya, dan buku itu terbuka.

Ayah sedang membaca halaman pertama. Seketika jantung Nayla serasa berhenti berdetak cepat, wajahnya berubah pucat pasi, tangannya terasa dingin dan berkeringat, Ia membeku di ambang pintu. Tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu, ayah perlahan membalik ke halaman berikutnya. Lalu halaman berikutnya lagi. Ekspresi wajahnya sulit ditebak. Nayla hanya mampu menggenggam ujung bajunya dengan tangan yang gemetar.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mimpi yang selama ini ia sembunyikan… berada di tangan orang yang paling ia takuti penilaiannya

BERSAMBUNG………..

 

Pesan Moral

 

Tidak semua mimpi lahir di tengah tepuk tangan. Ada mimpi yang tumbuh dalam sunyi, disiram oleh air mata, dan dijaga dengan keberanian yang tak terlihat. Ketika dunia belum mampu percaya pada langkahmu, jangan biarkan hatimu ikut meragukan tujuanmu. Sebab, setiap mimpi yang diperjuangkan dengan ketulusan akan menemukan waktunya sendiri untuk bersinar.

 

Mimpi tidak selalu membutuhkan banyak orang yang percaya. Terkadang, ia hanya membutuhkan satu hati yang tetap bertahan, meski seluruh dunia memilih meragukannya.

 

Bagaimana menurut Sahabat Literasi? Akankah Ayah memahami mimpi Nayla? atau justru memadamkannya? Temukan jawabannya pada Chapter 2 yang akan terbit Minggu depan. Sampai jumpa, dan tetaplah mencintai buku karena setiap cerita selalu menyimpan harapan di halaman berikutnya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait