terbaruu
Saat Langit Belajar Mendengar

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat Literasi SD ITQ As Syafiiyyah yang kami banggakan,

Selamat datang kembali di ruang sederhana tempat kata-kata dirangkai menjadi cerita, dan cerita menjadi jendela untuk melihat dunia dengan cara yang lebih luas.

Melalui karya Saat Langit Belajar Mendengar, bersama dengan enyambuut maulid Nabi Muhammad SAW dengan hati yang tenang dan bersih, kami mengajak Sahabat Literasi untuk menyusuri setiap halaman dengan perlahan. Sebuah kisah tentang mimpi, keberanian, kehilangan, persahabatan, dan harapan yang tumbuh di antara perjalanan kehidupan.

Cerita ini akan hadir setiap pekan, menemani waktu membaca Sahabat Literasi sekaligus mengajak kita menemukan pelajaran kecil yang mungkin dekat dengan kehidupan kita.

Semoga setiap kata yang dibaca tidak hanya tinggal di halaman, tetapi juga menjadi kebaikan yang tumbuh di dalam hati.

Selamat membaca, menikmati setiap perjalanan, dan menemukan makna di balik setiap cerita. 📖🌿

 

Chapter 4: Ketika Langit Berhenti Mendengar

Gedung lobi gubernur yang semula megah dengan pilar-pilar putih tinggi menjulang, dalam sedetik terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap dan mencekam. Suara riuh tepuk tangan dari dalam aula masih lamat-lamat terdengar, namun di lobi luar, waktu seolah berhenti berputar.

Prak!

Ponsel di genggaman Ayah tidak hanya retak; layarnya hancur berkeping-keping di atas lantai marmer yang dingin. Suara hantaman benda elektronik itu bergema kelam, memotong seluruh sisa tawa yang baru saja sedetik lalu menghiasi wajah mereka. Tubuh Ayah limbung. Pria paruh baya yang biasanya tegap dan kokoh, bahkan saat memegang kapak kayu atau membersihkan tungku, kini mendadak kehilangan seluruh tulang penyangganya. Jika Pak Firman tidak segera menangkap pundaknya, Ayah pasti sudah jatuh bersimpuh di atas reruntuhan ponselnya sendiri.

“Pak Firman… Ayah… ada apa?” Nayla melangkah maju. Langkahnya berat. Piala berlapis kuningan di tangan kanannya yang baru saja ia banggakan di atas podium kini terasa seperti bongkahan es yang membekukan darahnya. Senyum manisnya luntur, digantikan oleh kerutan ketakutan yang amat nyata.

“Ayah, jawab Nayla! Jangan diam seperti ini, demi Allah, Nayla takut!” teriak gadis itu, suaranya mulai melengking tinggi, memecah keheningan lobi yang dingin.

Ayah tidak menjawab. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya melebar menatap lantai dengan tatapan kosong yang teramat mengerikan. Bibirnya bergetar hebat, mencoba merangkai kata namun yang keluar hanyalah suara desisan parau yang pilu.

Pak Firman tidak sanggup menatap mata Nayla. Guru yang selalu menjadi mentor terbaiknya itu hanya bisa menunduk, napasnya yang memburu menyisakan suara sesak di udara malam. “Nayla… Ayah…” suara Pak Firman tercekat. Beliau memandang Bu Ratih yang juga terpaku di tempatnya.

Sebelum Pak Firman sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah siluet berlari kencang dari arah pintu masuk lobi. Langkah kaki yang tergesa-gesa itu memecah keheningan. Itu Alya. Sahabat karib Nayla sejak kecil, orang yang tahu persis bagaimana perjuangan Nayla berjualan tahu sempol demi membeli sebatang pensil.

Rambut Alya berantakan, dan yang paling membuat jantung Nayla berdegup dua kali lebih cepat adalah air mata yang sudah membanjiri seluruh wajah sahabatnya itu.

Alya langsung menerobos, menggenggam kedua tangan Nayla yang gemetar. Tangan Alya teramat dingin, sedingin malam yang mencekam itu.

“Nayla…” Alya terisak, suaranya parau, menyisakan getaran yang merobek keheningan. “Ibu, Nay… Ibu…”

“Kenapa dengan Ibu, Al?! Bicara yang jelas, jangan membuatku gila!” teriak Nayla. Emosinya buncah. Ketakutan yang semula hanya berupa firasat buruk di atas panggung kini menjelma menjadi monster yang siap menerkamnya hidup-hidup.

“Ibu pingsan di dapur, Nay… Jantungnya… jantung Ibu kambuh parah secara mendadak. Waktu aku ke rumahmu untuk mengambil payung, Ibu sudah tergeletak di lantai, dadanya dicengkeram erat sekali… Ibu koma, Nay! Ambulans baru saja membawanya ke Rumah Sakit Medika!”

Ting… klang…

Dunia seolah runtuh tanpa suara. Piala kuningan di tangan Nayla terlepas begitu saja, berdentang keras di atas marmer, menggelinding menjauh menuju sudut ruangan, tak lagi memiliki arti.

Di ujung lobi, Ayah menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengeluarkan suara raungan tertahan yang begitu memilukan. Malam penganugerahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, dalam sekejap mata berubah menjadi titik awal dari sebuah tragedi yang tak pernah mereka duga.

Bu Ratih dengan sigap merangkul Nayla yang tubuhnya sudah mulai melemas. “Kita ke rumah sakit sekarang. Pak Firman, bantu tuntun Ayah Nayla ke mobil!” perintah Bu Ratih tegas, mencoba mengendalikan situasi di tengah badai takdir yang tiba-tiba datang menghantam.

Lorong Rumah Sakit Medika berbau karbol yang tajam. Suara bip… bip… bip… dari mesin pendeteksi jantung di dalam ruang ICVCU menjadi satu-satunya melodi kelam yang menemani hari-hari mereka. Di balik kaca buram, Ibu terbaring di sana. Wanita lembut yang selalu memeluk Nayla dari belakang saat ia menangis, kini tampak begitu kecil di balik selimut putih rumah sakit.

Kebocoran jantung yang selama bertahun-tahun disembunyikan Ibu dengan senyuman dan tawa palsu demi menghemat biaya pengobatan, kini telah membuat tubuh ringkih itu menyerah dalam koma yang dalam. Berbagai selang dan alat bantu napas menancap kelam, mencoba menahan sisa hidup yang kian terkikis.

Ibu adalah support system utama Nayla. Ketika Ayah membakar draf buku cerita kesayangannya di malam yang dingin beberapa bulan lalu, Ibulah yang diam-diam memeluknya di dapur, mengusap air matanya, dan berbisik bahwa mimpi seorang anak perempuan tidak akan pernah bisa hangus oleh api.

Ibu yang selalu menyisihkan uang kembalian belanja tahu sempol demi membelikan Nayla kertas putih. Kini, sumber kekuatan itu terbaring koma, tak bergerak, berada di ambang batas antara hidup dan mati.

Hari pertama berlalu tanpa ada perubahan. Ayah mengalami shock berat. Pria yang biasanya keras, bermuka masam, dan penuh harga diri itu kini hanya bisa duduk di kursi lipat di luar ruangan tunggu pasin ICVCU dengan tatapan kosong. Ayah tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan tidak berbicara sepatah kata pun.

Matanya merah, bengkak, menatap nanar ke arah pintu kaca. Rasa bersalah yang mendalam karena pernah menyia-nyiakan bakat anaknya, ditambah dengan ketakutan kehilangan belahan jiwanya yang menderita diam-diam, membuat jiwa Ayah benar-benar lumpuh.

Nayla duduk berlutut di depan kursi Ayah, menggenggam jemari ayahnya yang kasar, kaku, dan dingin.

“Ayah… makan sedikit ya? Dua sendok saja, Nayla suapi,” bisik Nayla lirih, air matanya menetes melewati sela-sela jari Ayah.

Ayah tidak bergeming. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Ayah seperti raga tanpa jiwa, sebuah cangkang kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya.

Nayla menatap wajah Ayah dengan dada yang kian sesak. “Ayah… jangan seperti ini. Kalau Ayah juga sakit, Nayla sama siapa? Nayla takut, Yah… Nayla tidak butuh piala itu, Nayla bersumpah tidak akan menulis lagi kalau itu yang membuat Ibu dan Ayah seperti ini. Tolong bicara, Yah… marahi Nayla seperti dulu, bentak Nayla seperti waktu Ayah membakar buku itu! Tolong, Yah… jangan diam…” Nayla terisak histeris, menyandarkan kepalanya di lutut Ayah, meluapkan seluruh ketakutan yang menggunung di dadanya.

Alya yang setia menemani di sudut lorong ikut menangis sesenggukan. Ia membawakan sebungkus roti yang sama sekali tidak disentuh oleh sahabatnya. Alya tahu, kata-kata penghibur apa pun akan terdengar hambar saat ini. Ia hanya bisa hadir, menjadi saksi bagaimana hancurnya sebuah keluarga kecil dalam waktu satu malam.

“Ya Rabb,” doa Nayla dalam hati, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. “Kau telah memberikan halaman baru pada buku hijauku melalui keikhlasan. Kau telah mengabulkan mimpiku berdiri di atas panggung provinsi. Tapi jika harga dari semua itu adalah nyawa Ibuku, aku mohon… ambil kembali piala itu. Ambil kembali seluruh prestasiku. Aku hanya ingin jantung Ibuku kembali berdetak normal dan ia membuka matanya.”

Namun, langit di luar jendela rumah sakit tetap hitam pekat, membisu seolah enggan mendengarkan bait-bait doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur.

Memasuki hari ketiga, ketegangan di lorong rumah sakit semakin memuncak. Garis diagonal pada monitor jantung Ibu di dalam ruangan menunjukkan grafik yang semakin tidak stabil, menandakan jantung yang bocor itu sudah terlalu lelah untuk memompa kehidupan. Dokter dan perawat keluar masuk dengan langkah tergesa-gesa, gurat kecemasan terlihat jelas di wajah mereka. Dan memindahkan Ibu keruang ICU.

Sore itu, sekitar pukul empat, dokter keluar dari ruang ICU dengan perlahan. Ia melepas maskernya, menatap Ayah dan Nayla dengan pandangan mata yang sayu dan sarat akan penyesalan.

“Pak… Dek Nayla… silakan masuk. Ini saatnya mendampingi Ibu,” ujar dokter dengan suara yang amat pelan.

Mendengar kata-kata itu, Ayah tiba-tiba tersentak seolah tersengat listrik. Ia bangkit berdiri dengan sangat terburu-buru hingga kursi lipatnya terjatuh ke belakang. Langkah Ayah sempoyongan saat memasuki ruangan, diikuti oleh Nayla dan Alya yang menahan napas di ambang pintu.

Di dalam ruangan, bau obat terasa semakin menyengat. Suara mesin pendeteksi jantung melambat. Bip……… bip……… bip………Ayah langsung berlutut di samping ranjang Ibu, menggenggam tangan Ibu dengan kedua tangan kasar yang dulu pernah membakar mimpi anaknya, lalu menempelkannya ke pipinya yang basah oleh air mata.

“Bu… ini Ayah, Bu… Tolong bangun… Jangan tinggalkan Ayah dan Nayla… Ayah minta maaf, Bu… Ayah salah, Ayah suami yang bodoh!” raung Ayah. Suaranya pecah, sebuah tangisan penyesalan terbesar dari seorang suami yang terlambat menyadari betapa parahnya sakit yang dipendam sang istri demi menghemat biaya untuk sekolah anak mereka. “Ayah berjanji akan membelikan Nayla beratus-ratus buku baru, Ayah tidak akan melarangnya lagi, asal Ibu bangun… demi Allah, bangun, Bu…”

Nayla melangkah mendekat ke sisi lain ranjang, air matanya deras mengalir tanpa bisa dibendung. Ia melihat wajah Ibunya yang begitu pucat namun damai, seolah-olah wanita itu hanya sedang tertidur pulas setelah lelah bekerja seharian. Nayla membungkuk, menempelkan pipinya ke pipi Ibu yang mulai terasa dingin.

“Ibu… Nayla sudah menang, Bu… Nayla berhasil membawa pulang piala seperti yang Ibu mau. Buku hijau dari Ayah sudah mulai Nayla isi. Tapi kenapa Ibu tidak bangun untuk membacanya? Ibu yang bilang kalau langit pasti mendengar tulisan Nayla… tapi kenapa sekarang langit justru merebut Ibu dari Nayla?” bisik Nayla di sela tangisnya yang tersedat-sedat.

Alya yang berdiri di belakang Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya tak henti-henti mengalir melihat sahabatnya yang begitu rapuh di depan raga sang ibu.

Tepat saat matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan sinar kemerahan yang terakhir menerobos celah gorden rumah sakit, garis di monitor jantung Ibu perlahan mendatar.

Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiippppp……

Suara dengung panjang itu menjadi penanda akhir dari perjuangan Ibu melawan kebocoran jantungnya. Tangan Ibu yang berada di genggaman Ayah perlahan kehilangan sisa kehangatannya, menjadi lemas dan terkulai. Ibu telah berpulang ke haribaanNya, meninggalkan dunia yang fana ini tepat di saat anak gadisnya baru saja mulai mengepakkan sayap mimpinya.

“IBUUUUUUUUUUUU! Pangil Nayla dengan sisa tenaganya yang lirih.

JANGAN TINGGALKAN NAYLA, IBUUUU!”

Raungan Nayla memecah kesunyian ruangan itu, sebuah jeritan yang begitu menyayat hati hingga membuat perawat yang berdiri di sudut ruangan ikut menghapus air matanya. Nayla memeluk tubuh Ibunya yang sudah tak bernyawa dengan erat, sementara Ayah kembali terdiam, matanya melotot kosong, jiwanya benar-benar telah runtuh bersama gugurnya sang pelindung keluarga.

Satu minggu setelah pemakaman Ibu, suasana di rumah kecil Nayla benar-benar seperti kuburan kedua. Aroma tanah kuburan yang basah seolah ikut terbawa ke dalam ruang tamu. Ayah masih belum bisa bangkit. Pria itu menghabiskan waktunya hanya dengan duduk di sudut teras, menatap kosong ke arah tungku pembakaran tempat ia pernah memusnahkan karya putrinya.

Ayah tidak lagi bekerja, tidak lagi berbicara. Ia menjadi asing, sosok asing yang tenggelam dalam lautan penyesalan yang tak berdasar.

Sementara itu, di sekolah, kesuksesan program ‘Kotak Cerita Jujur’ yang diinisiasi oleh Nayla kini justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Kotak kardus yang diletakkan di depan perpustakaan itu kini penuh sesak dengan kertas-kertas berisi tulisan dari teman-temannya.

Ada yang menulis tentang impian mereka, keluh kesah, hingga cerita-cerita pendek yang jujur. Semua orang menantikan kehadiran Nayla, sang Ketua Klub Literasi, untuk membaca dan memberikan arahan seperti biasanya.

Namun, di dalam ruang perpustakaan yang sepi, Nayla hanya duduk termenung di depan meja bundar besar. Di depannya, tumpukan kertas dari Kotak Cerita Jujur teronggok begitu saja. Di sampingnya, buku catatan hijau tua pemberian Ayahnya terletak dalam keadaan tertutup rapat. Tidak ada satu patah kata pun yang bertambah di dalam buku itu sejak malam kematian Ibu.

Bu Ratih masuk perlahan, membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di dekat Nayla. “Nayla… teman-temanmu di luar menunggumu, Nak. Kotak Cerita Jujur sukses besar. Mereka butuh ketuamu untuk memimpin rapat hari ini.”

Nayla menatap Bu Ratih dengan mata yang bengkak dan kehilangan seluruh cahaya kreativitasnya. Ia menggelengkan kepala perlahan.

“Untuk apa, Bu?” suara Nayla terdengar sangat datar, dingin, dan kosong, membuat Bu Ratih terperangah. “Untuk apa saya mengajari mereka berani jujur pada perasaan lewat tulisan, kalau pada akhirnya takdir hanya akan menghancurkan apa yang kita cintai?”

“Nayla, jangan bicara seperti itu… Ibu tahu kamu terluka, tapi……………..”

“Literasi ini omong kosong, Bu Ratih!” potong Nayla, suaranya mendadak meninggi, air matanya kembali luruh membasahi pipinya yang tirus. “Saya menulis dengan hati, saya jujur pada mimpi saya, tapi apa hasilnya? Ibu saya meninggal dengan jantung yang bocor tepat di hari saya menerima piala! Ayah saya menjadi gila karena shock berat! Kata-kata tidak bisa menambal kebocoran jantung Ibu saya! Kata-kata tidak bisa mengembalikan senyum Ayah saya! Api di dalam jiwa saya sudah mati bersama Ibu, Bu. Saya mengundurkan diri sebagai Ketua Klub Literasi!”

Nayla bangkit berdiri dengan kasar, mengabaikan Bu Ratih yang terpaku dengan air mata yang mulai mengambang di kelopak matanya. Saat melangkah keluar dengan tergesa-gesa dari perpustakaan, ia berpapasan dengan Alya yang sedang mendekap beberapa lembar kertas cerita dari siswa lain.

Nayla menatap Alya dengan pandangan penuh keputusasaan dan kemarahan pada takdir. “Al… maafkan aku. Tolong jangan cari aku lagi. Aku tidak bisa lagi menjadi lilin untuk siapa pun. Aku sendiri sudah mati di dalam ruang yang paling gelap,” bisik Nayla sebelum berlari menerobos hujan di koridor sekolah, meninggalkan sahabatnya yang menangis menatap punggungnya yang kian menjauh.

Halaman 5: Rahasia Kelam di Balik Judul yang Hilang

Sore itu, hujan deras mengguyur bumi dengan kejam, seolah langit ikut merayakan kehancuran hati Nayla. Gadis itu berjalan pulang tanpa payung, membiarkan pakaian seragamnya basah kuyup, mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Baginya, mati rasa di dadanya jauh lebih menyiksa daripada air hujan mana pun.

Setibanya di halaman rumah, suasana tampak begitu sunyi. Ayah tidak ada di kursi teras seperti biasanya. Pintu kayu depan terbuka sedikit, berderit pelan ditiup angin kencang. Nayla melangkah masuk dengan perasaan yang tiba-tiba kembali tidak tenang.

“Ayah…?” panggil Nayla pelan. Tidak ada jawaban.

Ia memeriksa kamar Ayah, kosong. Kamarnya sendiri pun kosong. Namun, saat ia melangkah ke arah dapur belakang dekat halaman, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Tungku kecil di halaman belakang yang beberapa waktu lalu sudah dibersihkan total oleh Ayah, kini kembali berantakan. Beberapa lembar kertas tampak berserakan di sekitar tungku, basah terkena cipratan air hujan. Dan di sana, di dekat tumpukan kayu bakar, tergeletak sebuah kotak kayu tua milik almarhumah Ibu yang selama ini selalu dikunci rapat di dalam lemari pakaian.

Nayla mendekati tungku dengan tangan yang gemetar hebat. Ia berlutut di atas tanah yang becek dan kotor, memungut selembar kertas yang hampir hancur karena air. Di atas kertas itu, ada tulisan tangan Ibu, namun bukan tulisan yang lembut seperti di buku catatan, melainkan tulisan yang tergesa-gesa, berantakan, dan penuh bercak noda yang menyerupai darah kering yang sudah lama.

Nayla mengambil kotak itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia duduk di atas lantai kamar yang dingin, lalu memutar anak kunci tersebut. Klik.

Saat tutup kotak terbuka, aroma minyak wangi melati khas Ibu menyeruak keluar, mengiris hatinya. Namun, isinya sama sekali di luar dugaan. Bukan perhiasan atau uang simpanan, melainkan sebuah manuskrip tebal berisi tulisan tangan Ibu yang sudah agak menguning. Di lembar paling depan, tertera sebuah judul dengan tinta hitam yang tebal: “Goresan Pena yang Belum Selesai.”

Di bawah judul itu, Ibu menuliskan sebuah catatan kaki kecil yang ditulis dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya sebelum jatuh koma:

“Nayla anakku… Maafkan Ibu yang tidak pernah menceritakan ini. Jauh sebelum Ibu menjadi seorang ibu rumah tangga yang sederhana, mimpi terbesar Ibu adalah menjadi seorang penulis besar yang karyanya bisa merengkuh dunia. Ibu ingin menyuarakan kebenaran lewat kata-kata. Namun, penyakit kebocoran jantung ini merampas segalanya. Fisik Ibu terlalu lemah untuk bertahan di industri yang kejam ini, dan mimpi itu harus terkubur bersama rasa sakit yang Ibu tanggung sendiri. Ketika Ibu melihatmu menulis di buku hijau itu, Ibu melihat diri Ibu yang hidup kembali. Mimpi Ibu yang sempat mati, kini mengalir deras di dalam darahmu…”

 

Air mata Nayla menetes deras, membasahi permukaan kertas manuskrip milik Ibunya. Dadanya sesak, namun kali ini, ada sesuatu yang bergolak di dalam sana. Sebuah rasa hangat yang perlahan mengalir, menggantikan kekosongan yang sempat merenggut jiwanya. Ibunya tidak pernah melarangnya secara mutlak, Ibu hanya takut penyakit yang sama atau kekecewaan yang sama akan melukai hatinya. Namun yang paling penting, ada sebuah mimpi besar seorang wanita luar biasa yang kini sepenuhnya diwariskan ke pundaknya.

Nayla membalik halaman demi halaman manuskrip itu. Di halaman terakhir, cerita Ibu terputus di tengah jalan, menyisakan sebuah kalimat gantung yang ditulis dengan tinta yang melebar: “Dan ketika takdir memaksaku berhenti, aku tahu, suatu hari nanti…”

Tiba-tiba, lampu kamar padam total. Suara gemuruh petir yang menggelegar di luar langsung menyergap keheningan rumah.

Nayla tersentak. Di tengah kegelapan yang pekat, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu depan yang sangat pelan, ritmis, namun terasa begitu berat. Tok… Tok… Tok…

Nayla menahan napasnya, mendekap erat manuskrip peninggalan Ibunya ke dada. Siapa yang bertamu di tengah badai sedahsyat ini? Apakah takdir datang untuk merebut sisa harapan yang baru saja menyala di hatinya, ataukah ini awal dari babak baru yang harus ia selesaikan demi mewujudkan mimpi besar sang ibu yang belum tersampaikan?

BERSAMBUNG KE CHAPTER 5…

Pesan moral

  1. Terkadang, langit tidak segera menjawab doa yang kita panjatkan, bukan karena ia tidak mendengar, melainkan karena ada hikmah yang sedang dipersiapkan di balik kehilangan.

 

  1. Jangan biarkan duka memadamkan mimpi, sebab orang-orang yang kita cintai mungkin telah pergi, tetapi kasih, doa, dan harapan yang mereka tinggalkan akan selalu hidup dalam setiap langkah kita.

 

  1. Kehilangan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ia mungkin menjadi halaman paling berat untuk dibaca, tetapi dari sanalah kita belajar tentang keikhlasan, memaafkan, dan keberanian untuk melanjutkan mimpi yang pernah dititipkan kepada kita.

 

Sahabat Literasi SD ITQ As Syafiiyyah yang kami sayangi,

Sampailah kita di penghujung cerita untuk pekan ini.

Semoga kisah Saat Langit Belajar Mendengar tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi teman yang mengajarkan kita tentang arti mimpi, keteguhan hati, kasih sayang, dan keberanian untuk tetap melangkah meski perjalanan tidak selalu mudah. Sebab setiap halaman memiliki pesan, setiap tokoh memiliki perjalanan, dan setiap cerita mungkin menyimpan sesuatu yang dapat kita pelajari.

Jangan lupa, satu pekan lagi akan ada chapter 5 yang kembali menyapa.

Mari terus menumbuhkan kecintaan terhadap literasi, karena dari membaca kita belajar memahami dunia, dan dari menulis kita belajar menyuarakan isi hati.

Sampai berjumpa di kisah berikutnya.

Semoga Allah senantiasa menuntun langkah kita, menerangi hati kita dengan ilmu, dan menjadikan setiap bacaan yang kita nikmati sebagai jalan menuju kebaikan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Literasi dari SD ITQ As Syafiiyyah. Membaca dengan hati, menemukan makna, dan menebarkan inspirasi.📖✨

Wassaamualaikum warohmaullahi wabarokatuuh.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait