🌤️ Selamat Hari Minggu, Sahabat Literasi
Selamat menikmati hari Minggu, Sahabat Literasi. 🌷
Semoga hari ini menjadi waktu yang tenang untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan tentu saja menemukan cerita baru.
Mari kembali membuka lembar demi lembar kisah “Saat Langit Belajar Mendengar”
Sebab, terkadang sebuah cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk didengar oleh hati. 📖☁️
Selamat membaca dan selamat menikmati hari Minggu bersama kisah Nayla.
CHAPTER 2: JALAN BERSILANG DI BAWAH LANGIT YANG SAMA
Hawa Dingin di Ruang Tengah yang Sempit, Suara ketukan sampul tebal novel itu saat bertemu dengan permukaan meja kayu tua terdengar begitu dingin, memutus keheningan mencekam di ruang tengah rumah mereka yang sempit. Ayah perlahan menegakkan punggungnya yang tampak lelah dan sedikit membungkuk, lalu berbalik membelakangi meja jualan.
Di bawah temaram lampu bohlam kuning lima watt yang bergoyang pelan ditiup angin malam dari celah ventilasi, wajah keras
Ayah menyiratkan kekecewaan yang teramat mendalam, menyisakan kerutan yang kian tegas di sudut matanya.Nayla, dengan seragam putih-abu-abu SMA yang sudah mulai pudar warnanya dan sedikit kekecilan di bagian bahu, mematung di ambang pintu kamarnya yang hanya berlapis tirai kain.
Remaja berusia 15 tahun itu merasakan jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detakannya bisa terdengar ke seluruh ruangan. Sepasang tangan kecilnya yang kasar dan masih menyisakan aroma khas adonan bumbu kini bersimbah keringat dingin.
Di atas meja kayu, di samping tumpukan wadah plastik kosong dan sisa tusuk sate tahu sempol dagangannya, tergenggam buku bersampul hijau . Seluruh isi hati, rahasia, dan duni imajinasi masa mudanya kini telah telanjang bulat di depan mata sang kepala keluarga yang selama ini ia takuti penilaiannya.
“Jadi, karena main-main ini nilai sainsmu merosot tajam bulan ini? Karena kamu sibuk merangkai khayalan tidak masuk akal ini?” Suara Ayah terdengar sangat rendah, namun setiap suku katanya memiliki tekanan berat yang menghimpit paru-paru Nayla hingga terasa sesak.
Ayah berjalan mendekat beberapa langkah, memperlihatkan gurat kesedihan dan kelelahan fisik di wajahnya yang menua dengan cepat akibat kerja keras kasar demi menghidupi keluarga sederhana mereka yang serba kekurangan.
Nayla mencoba mendongak, menahan genangan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya. “Itu… itu bukan main-main, Yah. Itu cerita yang Nayla tulis setiap malam, sepulang sekolah, setelah semua tugas rumah selesai. Nayla ingin menjadi seorang penulis,” bisik Nayla dengan suara parau khas anak remaja yang sedang dirundung ketakutan hebat.
Ayah menggelengkan kepala perlahan, matanya ikut berkaca-kaca menatap putri tunggalnya. “Penulis? Nayla, sadarlah, kita ini keluarga miskin! Ayah membanting tulang setiap hari, memeras keringat di bawah terik matahari agar kamu bisa kuliah di Fakultas Kedokteran nanti. Hanya itu satu-satunya jalan agar keluarga kita dihormati orang lain dan bisa keluar dari jurang kemiskinan ini! Menjadi dokter itu masa depannya pasti, Nak. Jangan jadi pemimpi yang hidup di awang awang dengan kata kata tidak berguna yang tidak bisa membeli beras!”. Tekan ayah dengan airmata yang terus bersimbah .
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayah bagaikan belati tajam yang menguliti sisa sisa rasa percaya diri Nayla yang masih sangat rapuh di usia belia.
Ayah mengambil buku bersampul hijau itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melemparnya ke sudut meja dengan kasar hingga lembaran lembaran kertas di dalamnya mencuat keluar dari sampulnya. “Ayah tidak akan pernah memberikan restu untuk kebodohan dan kemalasan seperti ini. Mulai besok, tidak ada lagi waktu untuk menulis hal-hal tidak bermutu!” bentak Ayah dengan napas memburu.
“Simpan semua khayalanmu ini di dalam tong sampah! Tugasmu hanya belajar, menghafal rumus, dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas. Fokus pada buku buku pelajaran yang sudah Ayah belikan! Masuk kamarmu sekarang!” seru Ayah seraya menunjuk ke arah kamar dengan tegas.
Kata ‘tidak ada restu’ itu terus berdengung di telinga Nayla bagai lonceng kematian bagi dunianya yang baru saja mekar. Bagi gadis remaja seusianya, restu seorang ayah adalah langit tempat jiwanya bernaung mencari perlindungan. Namun malam itu, langit di rumahnya yang berdinding tripleks menutup diri dengan begitu rapat, menolak mendengar ketukan paling jujur dari lubuk nurani putrinya.
Nayla berlari menuju kamarnya yang pengap, menutup pintu kayu yang sudah lapuk itu rapat rapat, lalu meluruh begitu saja di atas lantai semen yang dingin. Di dalam kegelapan yang pekat, gadis 15 tahun itu menangis sejadi jadinya ke dalam bantal tipisnya, sekuat tenaga meredam suara isakannya agar tidak terdengar oleh Ayah melalui dinding pembatas yang tipis. Dadanya terasa sesak luar biasa, menyisakan rasa perih yang teramat dalam akibat penolakan barusan. Mengapa impian yang ia rawat dengan penuh kasih justru dianggap sebagai sebuah dosa besar di rumahnya sendiri?Di sudut kamar yang sempit, sebuah ember plastik besar berisi adonan tepung dan tahu, serta ribuan tumpukan tusuk sate sudah menunggu untuk diolah menjadi tahu sempol untuk jualan esok hari.
Setiap subuh, tepat jam tiga pagi di saat seisi kampung masih terlelap, Nayla sudah harus bangun membelah kantuk untuk menggoreng ratusan tusuk tahu sempol di dapur yang penuh jelaga. Makanan itu nantinya akan ia titipkan di kantin sekolah saat jam istirahat tiba.
Sepulang sekolah pun, di saat teman-teman sebayanya berkumpul untuk bermain atau berjalan-jalan ke kota, Nayla harus berjalan kaki sejauh berkilometer kilometer di bawah terik matahari, berkeliling dari satu warung ke warung lain untuk mengambil wadah titipan dan sisa uang jualan.
Uang recehan bernoda minyak hasil keringatnya itu sama sekali tidak pernah ia gunakan untuk jajan atau membeli baju baru. Serupiah demi serupiah ia kumpulkan secara sembunyi sembunyi hanya untuk dua hal, membeli novel novel sastra karya penulis ternama yang sangat ia sukai sebagai bahan referensi, dan membeli buku catatan kosong bergaris tipis untuk menuangkan seluruh imajinasinya yang liar. Sebab di rumah, Ayah hanya sudi membelikan buku-buku tebal berisi rumus sains, kumpulan soal biologi, dan buku pelajaran sekolah untuk mengejar ambisi kedokteran.
Di tengah keputusasaan tanpa restu dan himpitan beban ekonomi yang seolah tiada habisnya, batin remaja Nayla terombang ambing di tepi jurang kepasrahan. Tepat saat air matanya mulai mengering, ponsel tuanya yang retak di atas kasur mendadak bergetar pelan, menampilkan satu nama yang familier, Alya
Dengan jemari yang masih gemetar hebat, Nayla menggeser layar ponselnya yang lambat. Suara cemas Alya langsung memecah keheningan di seberang telepon. “Nayla? Kamu tidak apa-apa, kan? Tadi aku nungguin balasan chat kamu sampai ketiduran, perasaanku mendadak enggak enak banget,” tanya Alya, sahabat sebangkunya sejak hari pertama masuk SMA yang selalu tahu kapan saja emosi dan kondisi jiwa Nayla sedang tidak baik baik saja. Mendengar suara tulus dari sahabatnya, pertahanan pertahanan terakhir yang dibangun Nayla malam itu kembali runtuh sepenuhnya.
Sambil terisak-isak menahan suara agar tidak bocor keluar kamar, ia menceritakan semua rentetan kejadian menyakitkan malam itu, tentang buku hijau yang ditemukan di meja ayah, kemarahan hebat Ayah, hingga impian Fakultas Kedokteran yang dipaksakan dan kini terasa bagai batu besar yang menghimpit dadanya.
Di ujung telepon, Alya mendengarkan setiap keluh kesah itu dengan penuh empati, tanpa sekali pun menyela cerita sahabatnya. Ia bisa merasakan betul betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh pundak kecil Nayla di usia yang masih belia ini.
“Nayla, tolong dengerin aku baik-baik,” ucap Alya dengan nada suara yang menenangkan namun sarat akan kekuatan. “Ayahmu mungkin punya hak untuk melarangmu menulis di dalam rumah ini, dan beliau mungkin bisa menyita buku-bukumu. Tapi ingat satu hal, Nay, beliau sama sekali tidak akan pernah bisa menghapus bakat, kreativitas, dan isi imajinasi yang ada di dalam kepalamu. Mulai besok, semua buku sastra yang kamu sukai dan buku kosong tempatmu menulis novel itu, titipkan di rumahku saja biar aman dan tidak disita Ayah. Besok sepulang sekolah, biar aku yang temenin kamu jalan kaki keliling ambil wadah titipan tahu sempolmu. Kita cari jalan keluar bareng-bareng di sekolah, ya? Kamu harus ingat, kamu enggak pernah sendirian menghadapi badai ini. Ada aku di sampingmu.” Bujuk Alya menenangkan.
Keesokan harinya di sekolah, usaha Nayla untuk menyembunyikan kesedihannya sia-sia, mata sembap yang memerah dan wajah lelahnya yang pucat tidak bisa berbohong kepada dunia. Langkah kakinya terasa begitu lunglai, bahkan setelah ia selesai meletakkan puluhan tusuk tahu sempol dagangannya di atas meja etalase kantin sekolah yang riuh. Beruntung bagi Nayla, jam pelajaran pertama hari itu adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Bu Ratih.
Bu Ratih dikenal sebagai sosok guru yang berwawasan luas, tutur katanya lembut puitis, dan selalu menjadi orang pertama yang menyadari serta memuji bakat kepenulisan luar biasa yang dimiliki Nayla di kelas melalui tugas-tugas karangannya. Menyadari ada gelagat yang tidak beres dan tatapan kosong dari murid kesayangan yang biasanya selalu antusias itu, Bu Ratih tidak tinggal diam.
Saat bel jam istirahat berbunyi, beliau meminta Alya untuk menemani Nayla datang ke ruang guru yang cenderung sepi.Di dalam ruangan yang sejuk dan tenang itu, ditemani segelas teh melati hangat yang sengaja disediakan oleh Bu Ratih, pertahanan diri Nayla kembali mencair.
Di hadapan sang guru yang sudah ia anggap seperti ibu keduanya di sekolah, Nayla akhirnya menumpahkan semua beban berat yang selama ini mengendap di dalam hatinya. Ia bercerita tentang penolakan keras dari Ayahnya yang tidak memberikan restu, ambisi kuliah kedokteran yang terasa asing bagi jiwanya, beban ekonomi keluarga sederhana mereka, hingga perjuangan fisiknya yang melelahkan dalam membagi waktu antara belajar mata pelajaran sekolah, membuat tahu sempol demi bisa membeli buku kesukaannya sendiri, dan menggoreskan imajinasi di sela waktu luang.
Bu Ratih mendengarkan seluruh penuturan itu dengan saksama, tatapan matanya yang teduh memancarkan kebijaksanaan yang mendalam tanpa ada sedikit pun penghakiman di dalamnya. Beliau mengulurkan tangan, lalu mengusap-usap bahu kecil Nayla yang masih berbalut seragam putih-abu-abu, seolah sedang menyalurkan energi kehidupan dan kekuatan yang sempat hilang dari tubuh remaja itu.”Nayla anakku yang hebat,” ucap Bu Ratih dengan suara yang lembut namun penuh penekanan yang membakar semangat. “Kamu harus paham, Ayahmu mencintaimu dengan cara yang keliru, lewat rasa takutnya yang mendalam akan kemiskinan masa lalu. Itulah alasan kenapa beliau hanya membelikanmu buku pelajaran sekolah dan memaksamu jadi dokter. Namun, kamu harus ingat satu hal, masa depan ini adalah selembar kertas putih yang mutlak milikmu, bukan milik Ayahmu atau orang lain. Jangan pernah biarkan penolakan siapa pun memadamkan api kreatif di dalam dirimu. Mulai hari ini, bawa semua buku sastra yang kamu sukai dan buku agenda tempat menuangkan imajinasimu ke sekolah. Tulis draf inspirasimu di sini, di perpustakaan atau di ruangan Ibu saat jam istirahat dan sepulang sekolah. Biar Ibu yang menjaga dan menyimpan semua buku-bukumu dengan aman di laci meja Ibu agar tidak akan pernah ketahuan oleh orang rumah. Ibu sendiri yang akan membimbing dan mengoreksi tulisanmu sampai kamu siap tulisanmu menyentuh dunia.”nasihat Bu Ratih dengan penuh kasih sayang.
Mendengar penuturan hangat dari Bu Ratih, ditambah dengan genggaman erat tangan Alya yang berjanji akan selalu membantunya membungkus tahu sempol setiap subuh, membuat sisa-sisa keputusasaan di dalam dada Nayla lenyap tak berbekas. Api kreativitas di dalam jiwa remaja berusia 15 tahun itu kini kembali berkobar dengan jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Sore itu, saat berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan yang berdebu untuk mengambil wadah kosong tahu sempol di bawah sengatan terik matahari, sebuah sumpah sunyi yang kokoh lahir kembali di hati kecil Nayla.
Biarlah telapak tangannya kasar dan melepuh karena jelaga minyak wajan ataupun adonan tahu, dan biarlah ia harus belajar dalam kepura puraan di depan Ayahnya demi bakti seorang anak. Namun, jiwanya yang merdeka akan tetap merajut untaian kata dalam senyap, demi membuktikan kepada dunia bahwa anak dari sebuah keluarga sederhana yang serba kekurangan pun memiliki hak penuh untuk menerbangkan langit mimpinya sendiri setinggi mungkin ke angkasa luar luas.
Malam itu, Nayla pulang dengan tubuh yang hampir tak menyisakan tenaga. Setelah seharian bersekolah, menjual tahu sempol, dan berjalan kaki mengambil wadah titipan dari beberapa warung, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanyalah duduk di sudut kamarnya dan melanjutkan cerita yang belum selesai ia tulis.
Namun ketika baru saja memasuki rumah, langkah Nayla mendadak terhenti. Ayah berdiri di ruang tengah. Di tangannya ada buku hijau itu.
Nayla langsung mengenalinya. Tubuhnya seketika menegang. “Yah…” Tegur Nayla memberanikan diri.
Ayah tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada buku tersebut. “Ayah sudah bilang, berhenti menulis.” Dengan nada tingginya.
Nayla menelan ludah.
“Itu cuma buku cerita, Yah. Nayla janji tetap belajar.” Jawabnya dengan lirih.
“Berapa kali Ayah harus bilang?” Suara Ayah semakin meninggi. “Nayla harus berhenti mengejar sesuatu yang tidak jelas!”. Tegas ayah kembali.
“Tapi, Yah…” suara Nayla bergetar. “Menulis itu bukan sekadar main-main.” Sahut Nayla dengan nada rendah menghormati.
Ayah tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. “Kalau begitu, buktikan.” Ucap ayah dengan nada menantang
Ayah berjalan menuju halaman belakang. Nayla mengikutinya dengan langkah panik. “Yah, mau diapakan buku itu?”. Tanya Nayla dengan penuh kekhawatiran.
Ayah berhenti di dekat tungku kecil tempat biasanya ia membakar sampah. Ia meletakkan buku hijau itu di atas tumpukan kertas bekas.
Nayla membeku.
“Jangan yaaaaah…”. Teriak Nayla lirih seraya menahannkehancuran hatinya.
Ayah mengambil sebatang korek. “Kalau buku ini yang membuatmu lupa pada masa depanmu, malam ini Ayah akan mengakhirinya.” Ucap ayah dengan pendiriannya, tanpa melihat sedalam mana hancur anak sulungnya itu.
“Ayaaaaah, tolong yah, jangaaaan…!” Nayla berlari hendak mengambil bukunya.
Namun Ayah menyalakan api.
Wuuuuush……
Api kecil menyentuh sudut buku. Nayla menjerit.
“AYAH!”
Ia berusaha maju, tetapi Ayah menahannya. Lembar demi lembar mulai menghitam. Tulisan-tulisan yang dibuat Nayla dengan susah payah perlahan menghilang ditelan api.
Tokoh-tokoh yang selama ini hidup di dalam kepalanya seakan ikut mati satu per satu.
Nayla hanya mampu berdiri dengan air mata yang mengalir deras. “Yah… itu tulisan Nayla…” Suaranya pecah. “Semua itu Nayla tulis dari hati…”
Ayah terdiam sesaat. Namun api terus menyala. Buku hijau itu semakin mengecil. Nayla jatuh berlutut. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
Bukan sekadar sebuah buku. Melainkan tempat ia menyimpan mimpi. Tempat ia menjadi dirinya sendiri. Tempat ia berani mengatakan bahwa suatu hari nanti ia ingin melihat namanya tercetak di sampul sebuah buku.
Api semakin besar, Hingga akhirnya hanya tersisa beberapa lembar yang belum terbakar. Nayla memejamkan mata. Air matanya jatuh tanpa suara.
Namun tepat ketika suasana itu terasa begitu hening dan menyakitkan, terdengar suara langkah kaki dari arah depan rumah.
Tok… tok… tok..
Semua orang terdiam. Ayah perlahan menoleh. Nayla mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Suara seseorang terdengar dari balik pintu pagar.
“Permisi…”
Suara itu tidak asing. Nayla mengerutkan kening. Beberapa detik kemudian, sosok tersebut muncul di bawah cahaya lampu teras. Tatapannya langsung tertuju kepada Nayla. Kemudian kepada api yang masih menyala.
Ia terdiam beberapa saat. Lalu berkata dengan suara tenang, “Sepertinya… saya datang di waktu yang tidak tepat.”
Bersambung…
Pesan Moral
1.Jangan biarkan keadaan memadamkan mimpi yang sedang tumbuh.
2. Satu kata yang menyakiti bisa membuat seseorang hampir menyerah, tetapi satu tangan yang menguatkan dapat menyalakan kembali harapan.
3. Kita tidak selalu harus berjalan sendirian. Akan selalu ada seseorang yang datang untuk mengingatkan bahwa langit masih mendengar doa-doa kita.
Alhamdulillah, perjalanan Nayla di chapter ini telah sampai di penghujung.
Namun, ketika mimpinya hampir benar-benar hancur bersama buku yang terbakar, seseorang tiba-tiba datang dan menyaksikan semuanya.
Siapa dia?
Dan mengapa kedatangannya mungkin akan mengubah perjalanan Nayla selamanya?
Jangan lewatkan chapter berikutnya. Karena kisah Nayla baru saja dimulai…