Matematika sering kali dianggap sebagai pelajaran yang menantang bagi sebagian anak. Ketika dihadapkan pada rumus yang rumit atau hitungan yang panjang, tidak jarang anak merasa buntu. Di titik inilah, anak-anak kerap mengambil jalan pintas: menyontek jawaban teman agar tugas cepat selesai.
Padahal, menyontek hanya menyelesaikan masalah nilai di atas kertas, bukan pemahaman di dalam kepala. Sebagai lingkungan pendidikan yang suportif, sekolah dan orang tua perlu bersama-sama mengubah kebiasaan ini. Kita harus mengalihkan fokus anak dari “meminta jawaban” menjadi “meminta diajari prosesnya”.
Kenapa Matematika Harus Dipahami, Bukan Disalin?
Matematika adalah ilmu yang saling berkelanjutan. Jika anak menyontek jawaban di bab perkalian, mereka akan kesulitan saat masuk ke bab pembagian atau pecahan. Menyontek merenggut kesempatan anak untuk melatih logika berpikir dan pemecahan masalah (problem-solving).
Mengubah Pola Pikir: Bertanya Itu Keren!
Banyak anak menyontek karena takut dinilai “tidak mampu” jika bertanya. Kita perlu menanamkan bahwa meminta bantuan teman untuk menjelaskan suatu materi adalah hal yang luar biasa.
Berikut adalah perbedaan mendasar yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak:
• Menyontek: “Eh, lihat jawaban nomor 5 dong, mau gue salin.” (Hasilnya: Tugas selesai, tapi otak tidak belajar apa-apa).
• Minta Diajari: “Eh, nomor 5 ini rumusnya pakai yang mana sih? Boleh tolong jelasin cara mulainya?” (Hasilnya: Anak mengerti prosesnya dan bisa mengerjakan soal serupa di kemudian hari).
• Pola Pikir Minta Diajari (Peer Learning): Siswa mendatangi temannya dan berkata, “Eh, aku bingung cara mengerjakan soal cerita nomor 3 ini. Boleh tolong jelaskan tidak, rumus mana yang harus dipakai dan bagaimana langkah pertamanya?” Tindakan ini membutuhkan proses berpikir. Hasilnya, anak mungkin butuh waktu lebih lama, tetapi ia menjadi paham dan mampu mengerjakan soal serupa secara mandiri di kemudian hari.
Indahnya Budaya Saling Mengajari di Antara Sesama Penghafal Al-Qur’an
Membiasakan siswa untuk berani meminta bantuan teman saat merasa kesulitan dalam matematika membawa banyak sekali dampak positif, baik dari segi akademis maupun pembentukan karakter islami:
1. Bahasa Teman Lebih Mudah Dicerna: Sering kali, penjelasan dari sesama teman sebaya (peer tutoring) jauh lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan analogi yang sesuai dengan dunia mereka, sehingga materi matematika yang tadinya dianggap menyeramkan berubah menjadi lebih menyenangkan.
2. Pahala yang Mengalir Bagi yang Mengajari: Di SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah, kita selalu mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ketika seorang siswa yang sudah paham matematika mau meluangkan waktunya untuk mengajari temannya yang belum bisa, ia sedang mengamalkan ilmu dan mendapatkan pahala kebaikan. Di sisi lain, mengajari orang lain justru akan membuat pemahaman anak tersebut semakin matang dan melekat kuat di ingatannya.
3. Menumbuhkan Ukhuwah dan Jiwa Sosial: Budaya saling mengajari ini akan mengikis sifat egois dan individualis. Anak-anak belajar untuk saling peduli, merendahkan hati untuk bertanya ketika tidak bisa, dan dengan ikhlas mengulurkan tangan ketika ada teman yang membutuhkan bantuan.
Sinergi Sekolah dan Orang Tua dalam Membangun Kebiasaan Ini
Menghilangkan budaya menyontek dan menggantinya dengan budaya saling mengajari memerlukan kerja sama yang erat antara pihak sekolah dan orang tua di rumah. Langkah-langkah nyata yang bisa kita lakukan bersama antara lain:
• Mengubah Indikator Pujian: Mari kita berhenti memberikan pujian yang berlebihan hanya pada nilai angka 100 yang sempurna. Sebaliknya, berikan apresiasi yang tinggi pada kejujuran, kerja keras, dan proses anak dalam memahami soal, meskipun hasil akhirnya mungkin belum sepenuhnya benar.
• Melatih Kalimat Bertanya yang Sopan: Anak-anak terkadang menyontek karena gengsi atau tidak tahu cara meminta bantuan. Kita bisa melatih mereka untuk terbiasa mengucapkan kalimat yang baik saat butuh bantuan, seperti: “Afwan, bolehkah aku meminta waktumu sebentar untuk mengajariku bagian hitungan yang ini? Aku belum terlalu paham cara mencarinya.”
• Mendukung Kelompok Belajar yang Sehat: Baik di kelas melalui bimbingan guru maupun di lingkungan rumah bersama orang tua, kita perlu memfasilitasi anak-anak untuk belajar kelompok. Terapkan aturan yang tegas sejak awal: Boleh berdiskusi tentang cara dan langkah-langkahnya, tetapi dilarang keras saling melihat dan menyalin hasil akhir jawabannya.
Dengan menanamkan kebiasaan positif ini, kita sedang menyiapkan generasi penerus dari SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah yang tidak hanya unggul dan kokoh dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki mentalitas pembelajar yang jujur, tangguh, dan cerdas dalam ilmu duniawi. Mari kita bersama-sama mendampingi tumbuh kembang mereka dengan menanamkan nilai bahwa proses memahami ilmu jauh lebih mulia daripada sekadar menyalin jawaban yang benar.