Akhir-akhir ini, langit Indonesia terasa tidak biasa. Seolah-olah ia sedang bersedih. Kabar duka datang silih berganti melalui berita. Banjir terjadi di utara, gempa mengguncang wilayah timur, dan lima gunung secara bersamaan menunjukkan kekuatannya.
Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Lewotobi, dan Sinabung seolah saling memuntahkan isi perutnya. Abu vulkanik pun menyebar ke mana-mana. Sekolah diliburkan, sementara ladang-ladang warga terancam gagal panen.
Daffi adalah seorang anak yang tinggal di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pagi itu, Daffi sedang menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawanya ke sekolah. Tiba-tiba, terdengar suara dentuman yang sangat keras.
“Duarrrrr!”
Daffi terkejut. Tubuhnya gemetar. Abu vulkanik mulai menyebar ke mana-mana. Rupanya, Gunung Anak Krakatau sedang menunjukkan kekuatannya. Gunung itu meletus.
Di tengah kebingungannya, terdengar suara notifikasi dari ponsel Daffi. Ternyata, ada pesan dari grup kelas. Daffi segera membuka pesan tersebut dan membacanya dengan saksama.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mohon maaf mengganggu. Kami informasikan bahwa kegiatan pembelajaran besok akan dilaksanakan secara daring karena abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau cukup tebal dan dapat membahayakan kesehatan.
Demikian informasi dari kami.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Daffi membaca pesan itu dengan suara lirih.
Kemudian, Daffi melihat keadaan halaman rumahnya. Benar saja, abu vulkanik telah memenuhi lantai teras dan halaman di sekitar rumahnya.
Di tengah duka tersebut, Indonesia tidak berhenti melangkah.
Doa-doa dipanjatkan dari gereja, masjid, pura, dan vihara. Banyak orang saling membantu dan menguatkan. Mereka tidak peduli dari mana asalnya, apa agamanya, atau di mana tempat tinggalnya. Mereka bersama-sama menghadapi bencana.
Mungkin, inilah cara alam mengingatkan kita. Bencana boleh memisahkan jarak, tetapi tidak pernah mampu memisahkan hati.
Sebab, Indonesia bukan hanya tentang gunung yang meletus. Indonesia adalah tentang kita yang tetap berdiri dan bertahan, tentang kepedulian, dan tentang tangan-tangan yang saling menguatkan.
