Bersama Ciptakan Sekolah yang Aman, Ramah, dan Bebas Bullying
Sekolah merupakan tempat bagi anak untuk belajar, bertumbuh, bersosialisasi, dan membangun persahabatan. Di sekolah, kita bertemu dengan teman-teman yang memiliki karakter, kebiasaan, kemampuan, dan penampilan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan belajar, bukan menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa sebuah ejekan yang menurut kita hanya candaan dapat menjadi luka bagi orang lain?
Apa Itu Bullying?
Bullying atau perundungan bukan sekadar pertengkaran biasa antara dua orang. Dalam kajian ilmiah, bullying memiliki karakteristik tertentu.
Menurut Dan Olweus (1993), bullying terjadi ketika seorang siswa secara berulang dan dalam kurun waktu tertentu menerima tindakan negatif dari satu atau beberapa siswa lain. Tindakan negatif tersebut dapat berupa tindakan fisik, kata-kata, maupun tindakan sosial seperti sengaja mengucilkan seseorang. Salah satu ciri penting bullying adalah adanya ketidakseimbangan kekuatan, sehingga korban mengalami kesulitan untuk membela dirinya.
Sementara itu, Volk, Dane, dan Marini (2014) menjelaskan bahwa bullying dapat dipahami melalui tiga unsur penting, yaitu adanya perilaku yang bertujuan menimbulkan dampak tertentu, adanya ketidakseimbangan kekuatan, dan adanya kerugian atau dampak buruk terhadap pihak yang menjadi sasaran.
Dengan demikian, bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain:
- Bullying fisik, seperti memukul, menendang, mendorong, atau menyakiti tubuh teman.
- Bullying verbal, seperti mengejek, menghina, mengancam, atau memberikan julukan yang tidak disukai.
- Bullying sosial, seperti sengaja mengucilkan, mempermalukan, atau mengajak teman lain untuk menjauhi seseorang.
- Cyberbullying, yaitu perundungan yang dilakukan melalui media digital, seperti menyebarkan sesuatu yang memalukan atau menyakiti orang lain melalui media sosial.
Penelitian mengenai bullying pada anak dan remaja juga menunjukkan bahwa perundungan dapat memberikan dampak secara fisik, sosial, maupun emosional terhadap anak yang menjadi sasaran.
“Kan Cuma Bercanda…”
Kalimat tersebut sering terdengar ketika seseorang ditegur karena mengejek atau mengganggu temannya. Padahal, bercanda memiliki batas. Jika hanya satu orang yang tertawa sementara orang lain merasa sedih, malu, takut, atau tersakiti, maka kita perlu berhenti dan mempertimbangkan kembali apakah hal tersebut masih dapat disebut sebagai candaan.
Niat seseorang mungkin hanya bercanda, tetapi dampak yang dirasakan oleh orang lain juga perlu diperhatikan. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan seseorang di balik senyumnya. Teman yang terlihat diam mungkin sedang menyimpan kesedihan. Teman yang selalu tersenyum mungkin sedang berusaha kuat. Karena itu, sebelum mengatakan atau melakukan sesuatu kepada teman, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau aku diperlakukan seperti ini, apakah aku akan merasa senang?”
Jika jawabannya tidak, sebaiknya jangan dilakukan.
Kata-Kata yang Tidak Terlihat Bisa Membekas
Luka akibat bullying tidak selalu terlihat seperti luka pada tubuh. Ejekan, penghinaan, pengucilan, atau ancaman dapat memengaruhi pengalaman anak di sekolah dan hubungan sosialnya. Kajian tentang bullying menunjukkan bahwa perundungan merupakan persoalan sosial yang dapat mengganggu perkembangan anak serta menciptakan lingkungan sekolah yang tidak sehat. Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan kata-kata. Satu kalimat mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi dampaknya bagi seseorang dapat dirasakan jauh lebih lama.
Jadilah Teman yang Menguatkan
Menghentikan bullying bukan hanya tugas guru atau orang dewasa. Siswa juga dapat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
- Ketika melihat teman diejek, jangan ikut tertawa.
- Ketika ada teman yang dikucilkan, ajaklah berbicara dan bermain bersama.
- Ketika melihat tindakan yang menyakiti, beranilah mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak baik dan segera ceritakan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
- Menjadi pemberani bukan berarti harus membalas dengan kekerasan.
- Menjadi pemberani berarti berani melakukan hal yang benar.
Penelitian tentang strategi guru dalam menangani bullying di sekolah dasar menunjukkan pentingnya penanganan yang terstruktur dan tidak menganggap bullying sekadar bagian biasa dari dinamika pertemanan anak. Artinya, menciptakan sekolah yang bebas bullying membutuhkan kepedulian bersama: siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua.
Sekolah Adalah Rumah Kedua Kita
Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk belajar, bermain, bertumbuh, dan menemukan banyak teman. Tidak seharusnya ada anak yang datang ke sekolah dengan rasa takut karena khawatir akan diejek, dikucilkan, diancam, atau disakiti.
Mari kita mulai dari hal-hal sederhana:
- Berbicara dengan sopan.
- Menghargai perbedaan.
- Tidak mengejek kekurangan teman.
- Tidak memberikan julukan yang membuat teman tidak nyaman.
- Mau berteman dengan siapa saja.
- Membantu teman yang membutuhkan.
- Berani melapor ketika melihat tindakan yang menyakiti.
Upaya pencegahan bullying juga tidak cukup hanya dilakukan dengan menegur pelaku ketika kejadian sudah terjadi. Lingkungan sekolah yang positif, pendidikan karakter, keterlibatan guru, dan dukungan teman sebaya merupakan bagian penting dalam menciptakan iklim sekolah yang aman.
Penelitian mengenai program pencegahan bullying di lingkungan sekolah di Indonesia juga menunjukkan perhatian terhadap pembentukan karakter dan lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya pencegahan perundungan.
🌱 STOP BULLYING, START CARING!
Tidak ada anak yang pantas direndahkan.
Tidak ada perbedaan yang pantas dijadikan alasan untuk menyakiti.
Dan tidak ada candaan yang layak jika membuat orang lain terluka.
Mari jadikan sekolah sebagai tempat yang penuh senyum, persahabatan, kepedulian, dan rasa aman. Karena satu kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini mungkin sangat berarti bagi seseorang.
“Jangan menjadi alasan seseorang kehilangan senyumnya. Jadilah alasan seseorang kembali percaya bahwa dunia masih penuh kebaikan.”
Daftar Pustaka
Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Oxford: Blackwell.
Volk, A. A., Dane, A. V., & Marini, Z. A. (2014). What is bullying? A theoretical redefinition. Developmental Review, 34(4), 327–343.
Sugiariyanti. (2009). Perilaku bullying pada anak dan remaja. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 1(2).
Lestari, S., & Sumarno. (2026). Teachers Strategies in Handling Bullying Cases in Elementary Schools: A Systematic Literature Review. Journal for Lesson and Learning Studies, 9(1).
Rini, N. M. P. T., Sanjaya, D. G. B., & Suastika, I. N. (2025). Optimalisasi Peran Guru dalam Mengatasi Bullying melalui Pendidikan Moral Pancasila pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains dan Humaniora, 9(2).