Di Tengah Ujian Buku Tetap Menjadi Teman
Minggu ini, SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah sedang melaksanakan Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) Gasal. Setiap mata pelajaran dikerjakan dalam waktu kurang lebih satu jam tiga puluh menit. Di tengah suasana ujian yang tenang dan penuh konsentrasi, ada pemandangan menarik yang berhasil ditemukan oleh Tim Literasi sekolah.
Setelah menyelesaikan soal lebih awal, beberapa siswa memilih untuk tidak sekadar menunggu waktu ujian berakhir. Mereka mengambil buku bacaan yang disukai, kemudian membacanya dengan tenang di tempat duduk masing-masing.
Ada yang membaca komik, buku cerita, cerpen, kumpulan cerpen, hingga kumpulan dongeng. Mereka tampak asyik menikmati bacaannya, sementara teman-teman yang lain masih berkutat dengan soal ujian.
Pemandangan sederhana tersebut ternyata menyimpan sebuah cerita yang cukup berarti.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus perlahan mulai tumbuh menjadi sebuah kebiasaan.
Sebelum pembelajaran dimulai, anak-anak di SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah telah dibiasakan untuk meluangkan waktu membaca. Kebiasaan tersebut ternyata mulai terbawa dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika mereka memiliki waktu luang setelah menyelesaikan ujian.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dapat dibaca, tetapi juga tentang bagaimana membaca perlahan menjadi bagian dari keseharian anak.
Bagi sebagian anak, membaca mungkin bermula dari hal sederhana: membaca komik karena ceritanya menarik, memilih dongeng karena membuat penasaran, atau membuka buku cerita karena ingin mengetahui kelanjutan kisahnya. Dari situlah kebiasaan membaca dapat tumbuh.
Melalui buku, anak-anak dapat menemukan berbagai pengetahuan dan pengalaman baru. Mereka dapat mengenal tempat yang belum pernah dikunjungi, bertemu tokoh-tokoh dalam cerita, memahami berbagai peristiwa, sekaligus mendapatkan hiburan yang tetap memberikan nilai edukatif.
Tidak hanya itu, membaca juga membantu memperkaya kosakata. Semakin banyak anak menemukan kata dan kalimat baru dalam bacaan, semakin banyak pula kata yang dapat mereka kenali dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Secara perlahan, mereka belajar memahami bagaimana sebuah kalimat disusun dan bagaimana sebuah cerita dapat menyampaikan gagasan dengan menarik.
Yang paling menarik, kebiasaan tersebut muncul dari pilihan mereka sendiri.
Tim Literasi menemukan beberapa siswa dari kelas 2, kelas 4, dan kelas 5 yang memanfaatkan waktu luang setelah mengerjakan ujian dengan membaca buku kesukaan mereka. Tanpa perlu diminta, mereka membuka buku dan tenggelam dalam cerita yang sedang dibacanya.
Mungkin bagi orang dewasa, membaca beberapa halaman di sela-sela ujian terlihat sebagai hal yang sederhana. Namun, bagi pendidikan literasi, momen seperti ini merupakan sebuah tanda yang patut diapresiasi.
Sebab, tujuan akhir dari gerakan literasi bukanlah sekadar membuat anak membaca karena ada aturan, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat, bahkan ketika tidak ada yang menyuruh.
Hari ini mereka membaca beberapa halaman di sela-sela ujian. Esok hari, semoga mereka semakin akrab dengan buku, semakin banyak menemukan pengetahuan, semakin kaya kosakata, dan semakin berani menuangkan gagasan melalui tulisan.
Dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali, tumbuhlah kecintaan terhadap membaca.
Dan dari membaca, anak-anak belajar bahwa setiap buku selalu membawa sesuatu untuk dibawa pulang: pengetahuan, pengalaman, imajinasi, dan inspirasi.
Mari terus menyalakan semangat membaca, karena dari membaca kita tumbuh dan berkarya.
