WhatsApp-Image-2026-08-29-at-02.00.26-1
Dari Rak Buku hingga Pojok Baca: Menguatkan Ekosistem Literasi melalui Inventarisasi dan Regulasi Buku

Dari Rak Buku hingga Pojok Baca: Menguatkan Ekosistem Literasi melalui Inventarisasi dan Regulasi Buku

Jumat, 28 Agustus 2026 — Upaya membangun budaya literasi di SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah terus dilakukan melalui berbagai kegiatan nyata. Tidak hanya mendorong peserta didik untuk gemar membaca, sekolah juga berupaya memastikan ketersediaan bahan bacaan dan sumber belajar yang tertata, sesuai, dan mudah diakses. Salah satunya melalui kegiatan inventarisasi dan penataan koleksi buku yang dilaksanakan oleh tim perpustakaan bersama tim literasi, dengan dukungan beberapa ustaz dan ustazah.

Kegiatan kali ini berfokus pada inventarisasi dan pelabelan buku-buku paket yang baru datang ke sekolah. Pelabelan tersebut merupakan tindak lanjut dari proses pengecapan buku yang telah dilakukan beberapa minggu sebelumnya. Melalui tahapan ini, buku-buku yang tersedia dapat tercatat dan tertata dengan lebih sistematis sehingga nantinya lebih mudah didistribusikan kepada peserta didik sebagai salah satu sumber belajar untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Kegiatan inventarisasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan literasi sekolah. Buku bukan sekadar benda yang tersimpan di rak, tetapi merupakan jembatan bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, pengelolaan buku secara teratur menjadi salah satu bentuk perhatian sekolah terhadap kebutuhan literasi dan pembelajaran peserta didik. Kesigapan tim dalam menyelesaikan inventarisasi diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan buku sehingga tidak hanya menjadi koleksi, tetapi benar-benar digunakan dalam proses belajar.

Selain membantu inventarisasi buku paket, tim literasi juga bekerja sama dengan tim perpustakaan dalam meregulasi koleksi buku di pojok baca setiap kelas. Buku-buku yang sebelumnya berada di masing-masing pojok baca dikumpulkan untuk kemudian dipilah dan didistribusikan kembali. Buku bacaan ditukar dan dibagi ke kelas-kelas dengan mempertimbangkan kesesuaian isi, tingkat kesulitan bacaan, serta jenjang peserta didik.

Proses regulasi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memilah kondisi buku. Buku-buku yang masih layak baca dipertahankan dan dikembalikan ke dalam koleksi kelas, sedangkan buku yang sudah tidak layak digunakan dipisahkan. Dengan demikian, pojok baca di setiap kelas diharapkan memiliki koleksi yang lebih relevan, menarik, dan nyaman digunakan oleh peserta didik.

Tidak berhenti pada penataan buku, tim literasi juga melakukan pendistribusian jurnal literasi terbaru ke setiap kelas. Jumlah jurnal disesuaikan dengan jumlah peserta didik di masing-masing kelas sehingga setiap anak memperoleh kesempatan untuk mencatat dan merefleksikan pengalaman literasinya. Jurnal literasi diharapkan dapat menjadi media sederhana untuk membangun kebiasaan membaca sekaligus melatih peserta didik menuangkan kembali informasi yang telah mereka peroleh dari bacaan.

Serangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa budaya literasi dibangun melalui proses yang berkelanjutan. Mulai dari menginventarisasi, melabeli, memilah, mengatur, mendistribusikan, hingga menyediakan jurnal literasi, setiap langkah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan sekolah yang dekat dengan buku dan pengetahuan. Kolaborasi antara tim perpustakaan, tim literasi, serta para ustaz dan ustazah menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan ekosistem literasi yang hidup di sekolah.

Melalui regulasi buku dan hadirnya jurnal literasi yang baru, SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah berharap peserta didik semakin bersemangat untuk membaca dan mengeksplorasi berbagai pengetahuan. Lebih dari sekadar meningkatkan minat baca, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap literasi, memperluas wawasan, melatih kemampuan berpikir kritis, serta membentuk kebiasaan belajar sepanjang hayat. Dengan buku yang tertata dan budaya membaca yang terus dirawat, sekolah terus berupaya menghadirkan literasi sebagai bagian yang menyenangkan dan bermakna dalam kehidupan peserta didik.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait